Tempel

SEJARAH

Tempel, berasal dari bahasa Belanda yaitu temple yang berarti candi atau kuil, bisa pula berarti bangunan tempat berteduh para petapa. Hal ini tentu saja mengingatkan kita pada hikayat sejarah Indramayu dahulu kala bahwa Indramayu merupakan daerah kedudukan penjajahan Belanda. Konon, dari daerah ini pula lahir jawara_jawara yang ditakuti musuh. Hingga pada masa sebelum kemerdekaan, desa Tempel merupakan tempat strategis untuk menyusun taktik perlawanan, walaupun tokoh_tokoh tersebut saat siang hari harus menyebar ke daerah lain seperti Lelea, Losarang, Tugu, hingga pusat pemerintahan yaitu di Indramayu kota (saat ini). Beberapa_orang yang sangat dipercaya memberikan berita kepada masyarakat lainnya agar tetap waspada disaat_saat tertentu dengan taktik tinggalkan rumah dan bersembunyi dibalik gundukan_gundukan padi. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencarian tokoh_tokoh tersebut, agar tidak dijadikan sasaran tendangan dan siksaan Belanda.  

Hatta, sesudah masa penjajahan berakhir, daerah ini tidak lepas dari permasalahan. Muncul DI/TII dan PKI yang hampir menguasai daerah ini. Namun masyarakat yang terlibat karena tipu muslihat jahat yang memberikan angin segar bagi siapapun yang ingin bergabung dengan PKI, dengan memberikan carik, tanah bagian. Hingga akhirnya banyak diantara masyarakat berbondong_bondong datang ke Kwedanaan Losarang untuk penandatangan pemberian tanah.  Dibohongi ? Iya ! Karena tandatangan itu dimanipulasi dengan judul bersedia menjadi anggota PKI dan mendukung pergerakannya. 

Memang sesudah masa_ masa kelam berlalu desa ini dikenal desa tertinggal. Sontak banyak tokoh yang dijuluki maling namun berhati dermawan. Sebut saja Banil, ia mencuri hanya untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan makanan. Pahlawan ia bagi sekelilingnya. Bilamana ada perampok yang benar_benar mengganggu kedamaian desa tersebut pastilah tidak akan selamat, sebut saja Warta, ia meninggal di tengah_tengah pematang sawah setelah dikepung jawara_jawara desa Tempel. Padahal Warta yang terkenal sakti itu menantang siapapun tak akan dapat menangkapnya, namun hari itu naas, tak mempan senjata_senjata yang dibawa jawara, salah seorang jawara mengetahui kelemahan Warta (sumbing) yaitu dengan tanah bekas kepiting sawah (yuyu) membuat lubangnya yang masih basah. Warta yang sebelumnya tak bisa mati oleh injakan orang_orang dihimpit papan dan kayu_kayu besar, ia bergeming. Namun kali ini ia harus menyerah oleh sentuhan gundukan tanah lubang yuyu itu. Kini tempat penangkapan rampok kakap itu dinamakan blok Gejud. Seram juga tempat itu. Ditambah tumbuh pohon besar berbentuk jamur. Terlihat mencekam penuh misteri bersejarah.

Pada mulanya desa ini hanya mempunyai satu nama yaitu Tempel, belum ada desa Tempel Kulon maupun Tempel Wetan. Hatta, pemekaran tidak bisa dibendung lagi karena perkembangan penduduknya yang semakin bertambah.  Pada tahun 1983 desa ini dibagi menjadi dua, yaitu Tempel dan Tempel Kulon. Desa di kawasan kecamatan Lelea ini mempunyai beberapa sebutan untuk masing masing bloknya yakni;

Tempel Kulon :

  1. Blok Asem
  2. Blok Tower
  3. Blok Cibereng Cilik
  4. Blok Sana
  5. Dan lain_lain.

Sedangkan di Tempel Wetan atau cukup kita sebut desa Tempel saja, mempunyai beberapa blok yang cukup luas wilayahnya, diantaranya :

  1. Blok Karangsari
  2. Blok Sukaraja
  3. Blok Bojong
  4. Blok Karang Anyar
  5. Blok Limbangan (Limbangan Cura dan Limbangan Pilang)
  6. Dan Lain_lain

PROFIL DESA

NAMA DESA  : TEMPEL
KECAMATAN  : LELEA
NAMA KUWU  : KADORI
PENDAMPING DESA SGDs  : TRISNA, SUWANDI
   : –
LUAS AREA  : 523,9 Ha

POTENSI DESA 

WARNA TANAH PERTANIAN : Coklat kehitaman
POTENSI PERTANIAN

: Luas pertanian 379 Ha. Jenis tanaman yang dibudidayakan adalah padi dan palawija dengan padi sebagai komoditi utama.

POTENSI PASAR

: –

POTENSI PERKEBUNAN : Luas perkebunan di desa ini masih kecil. Jenis tanaman yang dibudidayakan di desa ini yaitu semangka dan vanili.
POTENSI APOTEK HIDUP : Apotek hidup masih skala kecil ditanam di halaman rumah.
POTENSI PETERNAKAN : Luas area peternakan masih kecil. Hewan yang diternak adalah sapi, kambing dan unggas
POTENSI KULINER : –
POTENSI KESENIAN/ADAT (ceritakan sedikit asal usul desa/sejarah)

: Adat di desa antara lain Munjungan, Mapag sri (Menjelang panen), dan sedekah bumi (Menjelang tanam) yang dilaksanakan satu tahun sekali. Asal usul desa tempel yaitu Ada seorang budak Belanda yang berasal dari Majalengka yang tengah mengerjakan proyek jalan raya, yang bernama Jaka Sukun. Jaka Sukun adalah orang yang sangat cerdas dan ulet dalam bekerja sehingga Belanda pada saat itu tertarik kepadanya dan ingin mengajak kerja sama dengannya, tapi Jaka Sukun menolaknya dan kabur lari ke dalam hutan belantara dengan membawa pusaka berupa Pecut, Jaka Sukun tidak tahu harus pergi ke mana. Jaka Sukun pergi ke beberapa desa dan pada akhirnya persinggahan terakhir dari Jaka Sukun adalah di desa Tempel.

POTENSI WISATA TERPADU : Mbung Pemancingan (dalam rencana)
 

PENGEMBANGAN SDM DAN PROGRAM KEMITRAAN SMK

KONDISI KARANG TARUNA, AKTIF/PASIF? PAPARKAN!

: Karang taruna aktif dalam beberapa kegiatan seperti bola voli, acara lomba 17 Agustus dan beberapa acara jika diminta.

NAMA APLIKASI DESA ONLINE

: SISKUDES, OMSPAN, dan PRODESKEL

 

JUMLAH OPERATOR APLIKASI DESA : 1
POTENSI KERJASAMA SMK – DESA : Pusat Inovasi Desa.
   Kampung KB/Sehat
   
IMPIAN DESA DAN MASYARAKAT (5 TAHUN)

:  Aparat desa : Kedepannya desa Tempel lebih baik dan maju lagi masyarakat lebih sejahtera, pertanian lebih makmur dan aman. Warga desa

: Untuk kedepannya semoga pertanian makin maju, saluran air jalan sehingga tidak ada gangguan karena setiap tahun pasti ada gangguan.

SARAN : Antara desa dan SMK ada kerja sama yang baik terutama kerja sama di bidang kesehatan.