Edupark Lelea

Platform SMK Membangun Desa adalah kolaborasi bersama dengan Pemerintah Desa. Prosedur atau langkah yang harus dilakukan oleh SMK dalam meningkatkan peranannya dalam pembangunan pedesaan, dapat dilakukan sebagaimana terlihat dalam gambar  berikut.

A. Pemetaan Potensi

Pemetaan potensi bertujuan untuk mengidentifikasi potensi- potensi yang dimiliki SMK, Desa/Kelurahan, lembaga terkait, dan DUDI,   yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah dalam penguatan peran SMK dalam pembangunan pedesaan. Pemetaan potensi dimulai dengan evaluasi diri (potret sekolah), yaitu meliputi: (1) pemetaan sumber daya manusia yaitu peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan; (2) kurikulum/pembelajaran; (3) sarana prasarana; dan (4) tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya peraturan-peraturan yang mendukung terhadap program ini.

Pemetaan potensi desa/kelurahan bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari desa/kelurahan, meliputi sumber daya manusia desa/kelurahan, sumber daya alam, sumber daya budaya, dan sumber daya pendukung, seperti peraturan-peraturan tentang pemerintahan desa/kelurahan.

Pemetaan potensi lembaga-lembaga yang memiliki program pembangunan pedesaan seperti antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Dinas Pertanian, Dinas Perhubungan, Dinas Perindutrian, Dinas Perdagangan, dan Dinas Kesehatan. Program- program dari dinas-dinas tersebut dapat disinerginakan dengan program sekolah dalam pembangunan pedesaan.

Pemetaan potensi DUDI dengan melakukan identifikasi terhadap jenis, produk, tren pasar sebagai daya dukung yang dapat dimanfaat sekolah dalam sinergi program pembangunan pedesaan. DUDI tidak saja industri besar, termasuk juga usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang banyak terseber di pedesaan.

 

B. Pemetaan Ekosistem/Pola Terintegrasi 

Pemetaan ekosistem/pola terintegrasi menjadi penting bagi sekolah, mengingat potensi desa pada umumnya berkisar antara lain meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, budaya, sedangkan Bidang Keahlian yang dikembang di SMK meliputi 9 (sembilan) bidang keahlian, yaitu: (1) Teknologi dan Rekayasa; (2) Energi dan Pertambangan; (3) Teknologi Informasi dan Komunikasi; (4) Kesehatan dan Pekerjaan Sosial; (5) Agribisnis dan Agroteknologi; (6) Kemaritiman; (7) Bisnis dan Manajemen; (8) Pariwisata; dan (9) Seni dan Industri Kreatif.

Potensi desa dan bidang keahlian yang ada di SMK sepintas tidak selaras, namun apabila dilakukan pemetaan ekosistem, maka akan nampak bahwa satu potensi desa berkaitan dengan kompetensi keahlian lainnya yang dibutuhkan. Misalnya, pertanian membutuhkan teknologi tepat guna untuk mengolah lahan, proses produksi, pengolahan produk, pemasaran produk, distribusi produk, administrasi pengelolaan pertanian, kuliner, seni budaya, kesehatan masyarakat, bahkan saat ini banyak pertanian yang dikembangkan menjadi wisata, sehingga ekosistem yang terjadi akan semakin luas, meliputi penginapan, transportasi antara kota, advertising, bisnis daring.

Keterkaitan satu kompetensi dengan kompetensi lainnya tidak dapat dihindarkan, karena dalam dunia kerja tidak ada yang dapat berdiri sendiri, sebagaimana terlihat dalam gambar berikut ini

C. Perencanaan Program

Berdasarkan hasil pemetaan potensi dan ekosistem pembangunan perdesaan, selanjutnya disusun perencanaan program. Perencanaan program SMK Membangun Desa tidak dapat dilepaskan dari rencana strategis (renstra) sekolah/rencana induk pengembangan sekolah (RIPS)/Peta Jalan Sekolah, sehingga tidak diperlukan lagi program secara khusus yang terpisah dari Renstra/RIPS/Peta Jalan Sekolah.

Pengelolaan SMK menggunakan pendekatan manajemen berbasis sekolah/masyarakat (MBS/M) yang mendorong penyelenggaraan sekolah dikelola secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dengan memerhatikan kebijakan nasional dan karakteristik SMK. Penerapan MBS/M mendorong kemandirian SMK dalam pengelolaan pendidikan agar sesuai dengan potensi lingkungan budaya, kearifan lokal, dukungan partisipasi masyarakat dan sumber-sumber pembelajaran yang tersedia berdasarkan keunggulan dan ciri khas SMK.

Dalam penerapan MBS/M berkaitan dengan SMK membangun desa. Sekolah dapat merancang strategi untuk mencapai tujuan penguatan peran SMK dalam pembangunan pedesaan, melalui peningkatan kolaborasi dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan, atas prakarsa bersama dalam membuat keputusan dan penerapannya.

Program SMK membangun desa disusun bersama antara sekolah dan desa, serta unsur-unsur terkait. Perencanaan dituangkan dalam perencanaan jangka menengah dan pendek atau tahunan, dengan mempertimbangkan seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah, desa/kelurahan, DUDI dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

 

D. Kolaborasi

Berdasarkan hasil pemetaan potensi dan pemetaan ekosistem yang dituangkan dalam perencanaan program penguatan peran SMK dalam pembangunan pedesaan, selanjutnya sekolah melakukan kolaborasi/kemitraan dengan desa/kelurahan dan atau DUDI dan lembaga terkait lainnya.

Kolaborasi menjadi kunci utama dalam pengelolaan organisasi atau bisnis di masa kini. Organisasi masa lampau seluruh aset harus dimiliki sendiri, seperti gedung, lahan, fasilitas, tenaga pengajar,  sehingga  modal  awal  dan  operasional menjadi mahal karena membutuhkan biaya yang besar. Organisasi masa kini, sudah waktunya melakukan kolaborasi, saling berbagi, dan tidak harus memiliki sendiri semua aset untuk mengelola sebuah sekolah. SMK dapat saling memanfaatkan sumber daya dengan desa/kelurahan, lembaga-lembaga pemerintah atau swasta.

Kolaborasi perlu dibangun secara holistik mengikut sertakan pemangku    kepentingan    yang    mempunyai    daya    dukung keberhasilan yang tinggi. Prosedur atau langkah-langkah yang dapat dilakukan SMK dalam menjalin kerja sama dimulai dengan pendekatan atau penjajagan terhadap desa/kelurahan. Setelah terjalin saling pengertian yang baik, selanjutnya dilakukan ikatan kerja sama secara formal untuk memperkuat jalinan kerja sama tersebut.

Salah satu model  kerja sama yang sering dilakukan dalam pembangunan pedesaan dengan model pentahelix. Model pentahelix adalah suatu desain integrasi dari lima unsur, yaitu unsur pemerintah, industri, akademisi, masyarakat desa/kelurahan, dan media. Tetapi bagi SMK yang belum mampu menerapkan model pentahelix dapat menggunakan model kerja sama lainnya, seperti model triple helix (akademik, pemerintah, bisnis).

Gambar Kerja Sama Model Pentahelix

 

Setiap unsur memiliki peranannya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Unsur

Peran

Pemerintah

Pengaturan, Pembinaan,

Fasilitasi, dan Pengawasan

Industri/swasta

– Sumber modal usaha

– Membuka lapangan pekerjaan

– Perekrutan SDM lokal sebagai pelaku industri

Akademisi

– Pelaksana pelatihan dan pengembangan SDM

-Pelaksana pemetaan ilmiah

– Pelaksana sosialisasi dan pendampingan kelompok masyarakat

Masyarakat

– Berperan sebagai pelaku usaha yang bergerak langsung/tidak langsung di industri

– Memonitor dampak industri terhadap budaya dan sosial masyarakat

Media

– Instrumen promosi, distribusi informasi dan perbaikan citra

 

Pengelolaan sekolah dengan model pentahelix dapat menjadi model dalam penguatan peran SMK dalam pembangunan perdesaan ke depan untuk peningkatan sinergi, efesiensi dalam pengelolaan sekolah melalui sharing aset, percepatan kemandirian sekolah, serta mewujudkan desa/kelurahan yang mandiri dan sejahtera.

Pemerintah pusat melalui beberapa kementerian telah meluncurkan berbagai program untuk pembangunan pedesaan, sebagaimana program-program yang luncurkan oleh BAPPEDA, Dinas  PUPR,  Dinas  PMD,  Dinas  Pertanian,  Dinas  KKP,  Dinas

Perhubungan, Dinas Perindutrian, Dinas Perdagangan, Dinas ESDM, Dinas Kesehatan,   sehingga sekolah perlu melakukan pendataan program-program tersebut untuk memperkuat perencanaan dan implementasi program kerja sama SMK dengan Desa dan menghindari terjadinya tumpang tindih program pembangunan pedesaan.